Lupakan Aku

Berusahalah… untuk mengerti bahwa di dunia yang fana ini kita terlahir tak sempurna
Bahwa apa yang kita harap tak selalu bisa kita dapat, juga harus kau ingat
Kuatkanlah… dan mengerti bahwa hati terapuh dapat pula menjadi kekuatan baru
Bahwa apa yang terlewati mampu berikan pengalaman berharga untuk esok hari

Lupakan aku… bukan karna ku tak lagi mencintaimu seperti dulu
Proses pendewasaan diri tak selamanya mengenakkan hati, susah di arti
Tataplah masa depan ! jangan jadikan kepergianku ini sebagai satu rintangan
Ketulusan… t’lah tiba waktunya juga berbicara tentang pengorbanan

Aku pergi sejak hari ini bukan karna tak lagi mencintai
Aku tersenyum saat bertemu bukan karna bahagia meninggalkanmu
Aku begini…menyakiti hati bukan juga ingin kau musuhi
Hatiku pun menangis…tak hanya jiwamu yang teriris

Semoga perpisahan ini hanya sesaat
Semoga engkau mampu menatap kuat
Semoga terjaga semua hasrat
Hingga tiba lagi waktunya Tuhan persatukan kita erat

No comment »

entahlah

Terdiam di keseharian
rutinitas pasti, tanpa arti
menjalani, melewatkan
‘tanpa resah’ tapi menyadari

waktu terus saja membentuk jarak
sedang aku masih yang kemarin
esok terus saja berubah-ubah
hanya bisa bilang: “entahlah…”

No comment »

It’s mE

Kali ini tidak ada cinta
Tidak ada lagi kasih dan sayang
Tidak ada lagi mimpi
Tidak ada lagi harapan
Kamu t’lah pergi
Tinggal kan mimpi dan asa
Hidup tak lagi bermakna
itulah jiwaku tanpa mu
aku tak percaya lagi
Untuk merajut kepingan hati
Aku harus terus melangkah
Tak akan terhenti tak akan menepi…
“Itulah aku”

No comment »

patah hati?

Ketika aku tidak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan darimu, apakah sekarang aku sudah boleh untuk patah hati..?
Ketika kenyataan tak seindah harapan yang kudamba, apakah sudah cukup alasan untuk patah hatiku..?
Ketika rasa dalam dada tidak bisa tersalurkan kepada dia yang namanya terukir jauh dalam dadaku, apakah sudah bisa membuatku patah hati..?

Kecewa, sedih, sangatlah wajar kurasakan saat ini
Menangis, boleh saja, tiada yang melarangnya
Namun patah hati, sepertinya tidak boleh terjadi…….

No comment »

Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan

Kau beranjak pergi ke dunia, nun jauh, berbilang jarak dari segala. Kemudian kau pulang, berbusana kegelapan. Kau kembali, memberiku cahaya yang lama kau simpan-simpan, kau bentuk-bentuk tak setahu dunia, membentuk dirinya sendiri seperti lempung tanah liat, salju yang menyerbuk membatu, menggumpal, kau hibahkan, menaruhnya pada sebuah sudut hati, seperti persuaan cahaya dengan cahaya.

Dua cahaya menyatu jadi biru, titik warna tertinggi yang dicapai api, terbakar tanpa sempat terkejap—kau serahkan dirimu sendiri, di sini, di sebuah tempat yang jauh dari segala yang lain, bahkan jauh dari dirimu sendiri, di dekatku, di dalamku.

Pada saat yang sama, kau juga membuatku jauh dari diriku sendiri, di dekatmu, di dalammu. Jauh dari diri kita masing-masing, mengakrabi keabadian, mendekat pada sesuatu yang tak ternamai, tak tertempatkan, keindahan yang tak tergelincirkan, tak tergeserkan, tak terundukkan.

Di sini, di tempat ini, kita tertegaskan, terteguhkan, terkukuhkan, terpaskan, tersahkan. Kita ternyata harus terpisah untuk bisa bersama seperti ini, bercerai untuk rujuk menjadi sesuatu yang baru, rasa yang mengejutkan setiap kali datang, terpesona pada kebaruan yang selalu menyapa, berkilau wujud senyawa sederhana.

Kita pergi ke sana, untuk kemudian menyadari kita selalu di sana, dan akan tetap di sana, untuk kita temukan lagi, untuk kita lupakan lagi, dibarukan, disingkap, dibagi, digugurkan, disemi lagi.

Menjauh untuk kembali, berbusana kegelapan, membuka selubung cahaya, membangun cahaya, mengenali cahaya. Beringsut ke belakang, merangkak ke depan. Cahaya yang membuat bayang-bayang pepohonan menari-nari di tengah angin, di hadapan jendela tak berdaun di palung malam ini. Menengadah, merunduk.

Inilah kembara rintik, kembali ke sumbernya, merontokkan dirinya sendiri ke bumi, agar bisa mengenali samudera.

Seperti ini. Sungguh seperti itu.

No comment »

Masa Lalu? Ah, di Setiap Pagi Kau akan Terbangun tanpa Dosa

Ada hal yang terasa aneh, ketika kau ziarah ke tempat-tempat di mana kau dulu menghabiskan masa lalu.

Ke mana pun kau melangkah, kenangan seperti mengepung di setiap sudut. Di sana, di pantai di mana kau dulu pernah bolos dari sekolah; di sana, di ujung jalan di mana kau pertama kali berhasil meremas jemarinya; di sana, di restoran di mana pertama kali kau makan ayam bakar, padahal kau sedang kurang sehat, pas di hari ulang tahunmu itu…

Hal-hal yang sudah nyaris kau lupakan sama sekali, sesuatu yang terasa tak terkait lagi dengan kekinianmu, ke konsepsi dirimu saat ini; mulai menyembur, seperti luapan air yang melepas sumbatnya, dan getaran di bawah sekujur kulitmu itu memulai iramanya, semua hanya karena tiba-tiba matamu melihat riak air memantulkan cahaya bulan, atau bau yang khas di udara, mungkin juga rute-rute lama ke mana kau dulu mengayunkan langkah.

Kau pun tertegun: sungguhkah semuanya seburuk yang kau ingat? Bukankah sudah kau bungkus cerita lama itu, menaruhnya di tong sampah ingatan, tapi kini mengapa semua seperti menyergap, dan langkahmu tiba-tiba memberat seperti mendadak dapat beban tambahan.

Kota ini, bagimu, akan selalu menjadi kota yang sebagaimana dulu kau pahami: penuh rasa bosan dan gejolak pemberontakan, malam-malam yang dihabiskan di atas sepeda motor tua, percakapan yang mulai mempertanyakan tujuan kehidupan, cinta pertama, pelajaran main piano, bt, gairah, kesepian, depresi, perenungan diri, persahabatan.

Hari-hari terik, malam-malam hangat, rokok mild pertamamu, menyimak debur malas ombak mengantar angin malam, menunggu senja memerah mengantar mentari ke peraduan, berlari-lari kecil, mengenali diri, membenci diri sendiri.

Kota ini tak pernah cukup, begitu juga kau, tak pernah merasa sempurna. Maka kau putuskan pergi, dan bersumpah tak akan pernah kembali.

Tapi kini ketika kembali ke sini, walau hanya untuk satu sekat kurun waktu, setelah kau lupakan semua yang tertinggal di belakang, kau berhadapan dengan situasi yang aneh.

Kau tadinya ingin melihat kota ini, sama sekali terlepas dari masa lalumu, pada setiap aspeknya. Tapi kau harus mengakui, kau tak pernah bisa. Kau tetap orang yang dulu itu, kau tetaplah pengalaman-pengalaman itu, tempat-tempat itu, semua momen itu.

Pada semua naskah-naskah narasai hari yang tersusun rapi di setiap sudutnya, kota ini memantulkan bayanganmu. Mana mungkin kau campakkan semuanya begitu saja, dan kau bertandang bak seorang alien. Seperti pecinta yang tercampakkan, seperti bocah-bocah bandel, tempat ini mengisimu dengan kosongnya. Tak mungkin kau tinggalkan dia seutuhnya di belakang, tak mungkin kau ingkari dirimu di masa lalu.

Tapi tidak untuk menjadi pengantar mimpi buruk, sebab pada setiap pagi, kau akan bangun, memulai hari baru tanpa dosa.

No comment »

Yuk, Belajar Memahami Wanita…

Jangan dikira ini pasti ajakan mulia ya. Dalam teori perang juga ada doktrin: pahami musuhmu, sehingga kau tau kelemahannya, dan kau temukan cara mudah menghancurkannya.

Yang jelas, memahami adalah syarat awal terpenting, baik untuk memuliakan dan membahagiakan, maupun menista dan menghancurleburkankan.

Untuk mencuri hati seorang wanita, kau hanya perlu tau apa yang akan membuatnya tersenyum. Namun jika berniat menyimpan hasil curian itu lebih lama - atau justru meremukkan dengan segera - cari tau apa yang akan membuatnya menangis.

Wanita sebenarnya tak perlu sampai mengeluarkan air mata untuk lelaki mana pun. Tak ada lelaki yang pantas mendapatkannya. Kalaupun ada, dia pasti lelaki yang tak akan membuat wanitanya menangis.

Tapi itu teori. Prateknya, seringkali seseorang yang semestinya menghapus air matamu, justru orang yang membuatmu menangis sejadi-jadinya.

Ketika wanita diam, seribu hal sedang berlarian dalam benaknya.

Ketika wanita memilih tak mendebat, dia sedang berpikir sangat dalam.

Ketika wanita memandangmu dengan tatap penuh tanya, yup dia memang sedang bertanya, berapa lama lagi waktumu tersisa untuknya.

Ketika wanita menjawab, “Gapapa, aku baik-baik aja,” tapi setelah sekian detik tertunda, dia sama sekali ngga baik-baik aja.

Ketika wanita menatapmu tajam, dalam hatinya dia sedang membentakmu, “Kok tega sekali kamu berbohong!”

Ketika wanita bersandar di bahumu, dia sedang berharap kau bisa jadi miliknya selamanya, namun dia tau itu tidak akan terjadi.

Ketika wanita meneleponmu (hampir) setiap hari, dia sedang meminta sedikit saja perhatianmu.

Ketika wanita meng-sms-mu lebih sering lagi, dia sedang memintamu membalasnya, paling tidak sesekali.

Ketika wanita mengatakan, “Aku mencintaimu…”, beda denganmu, karena itu berisi kesungguhan.

Ketika wanita mengatakan, “Aku ngga bisa hidup tanpamu..”, dia sudah menyerahkan masa depannya untukmu.

Dan ketika wanita mengatakan, “Aku merindukanmu…”, tak ada siapapun di dunia ini yang bisa merindukanmu lebih dari itu.

… Mungkin akan berlanjut.

No comment »

Kemampuan Pikiran Manusia Itu Terbatas, Jangan Makin Dibatasi Pula

Monyet aja mikir, manusia kok malah memilih tunduk tanpa berpikir

Monyet aja mikir, manusia kok malah memilih tunduk tanpa berpikir

Salah satu kritik paling umum yang saya terima di blog ini adalah, terlalu mengagungkan pikiran, padahal katanya pikiran itu terbatas kemampuannya.

Lha saya malah bingung jadinya. Sudah tau kemampuan pikiran itu terbatas, kok malah dibatas-batasi pula? Geber dong sampai batas kemampuannya.

Ini sama dengan ungkapan hidup ini sudah sulit, ngapain pula makin dipersulit?

Ada kesan seakan keagungan Tuhan di “atas” sana, akan “terganggu” karena kebebasan berpikir itu. Yang menghina Tuhan itu sekarang siapa sih? Bukankah pikiran seperti itu justru sudah mengerdilkan keagungan Tuhan, seolah-olah Dia bisa diganggu oleh keliaran pikiran manusia?

Seperti parasut, pikiran hanya bermanfaat ketika ia terbuka. Seperti mesin, pikiran mengeluarkan output power terbaik dalam RPM tertinggi.

Namun tentu saja, kebebasan berpikir harus juga disertai dengan pengakuan akan kebebasan berpikir orang lain. Kutipan dari Voltaire - atau menurut koreksi dari Pak Dosen, sebenarnya kutipan dari Evelyn Beatrice Hall, penulis biografi Voltaire - berikut sungguh sangat sedap.

“Aku tak setuju pada apa yang kau katakan itu. Tapi akan kubela sampai mati, hakmu untuk mengatakannya”.

Nulisnya segini aja dulu. Mo mikir lagi soalnya… ;)

No comment »

Jika Kau Tau Semuanya, Masihkah Kau Cinta?

Mereka bertemu di gerbong kereta, dan jatuh cinta. Jason P Howe kemudian mengetahui, Marylin, wanita yang dicintainya itu, menjalani kehidupan ganda - sebagai seorang assassin, pembunuh rahasia di kelompok sayap kanan, dalam perang sipil Kolombia yang brutal.

Ketika ada rahasia yang diungkapkan, atau terungkap, sebuah hubungan akan bergerak ke sebuah titik: naik, turun, atau malah terjerembab ke titik nol. Biasanya sih rahasia itu nggak jauh-jauh dari seks! Tentang sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri, atau justru kau lelaki keberapa yang menidurinya. Setiap kejujuran akan membawa konsekuensi.

Tapi bagaimana kalau wanita itu mengungkapkan sebuah rahasia yang jauh lebih gelap dari sekadar pelakon threesome?

Marylin membersihkan senjatanya, disaksikan anak dan keluarganya.

Aku masih telanjang. Duduk di ranjang hotel murah dan kumuh, persis di pusat wilayah yang tercabik perang, sentral penghasil narkoba di Kolombia. Kunyalakan rokok, bersiap mendengar… Wanita yang baru saja bergumul denganku itu katanya mau menyampaikan sebuah pengakuan.

“Aku sebenarnya seorang pembunuh rahasia. Targetku adalah para mata-mata. Sedikitnya sudah 10 orang meregang nyawa di ujung senjataku.”
Kisah cinta seorang pewarta foto, Jason P Howe, dengan Marylin ini akan diangkat ke layar lebar. Kisah selengkapnya, baca I fell in love with a female assassin.

*****

Marylin dan Jason.

Banyak orang bilang, kejujuran adalah syarat pertama bagi tumbuh dan bertahannya sebuah hubungan cinta. Tapi lebih banyak lagi kenyataan, bahwa sebuah hubungan bisa bertahan justru dengan membekap kuat-kuat sebuah, beberapa, atau begitu banyak rahasia.

Bila semua rahasia dibuka, kau mungkin tak akan pernah jatuh cinta…

No comment »

Surat dari Iblis

Bila Lae Jarar dapat kutipan surat dari seorang PNS, aku malah mendapat hal sejenis, tapi yang ini dari Iblis. Tidak usah diselidiki bagaimana keotentikan surat ini. Toh, Anda bilang jangan lihat siapa yang mengirim, tapi lihatlah apa kirimannya. Surat ini sama sekali tidak mengalami proses penyuntingan. Iblis ternyata tidak seperti yang kita bayangkan. Bahasa mereka jauh lebih sopan dari manusia kebanyakan, meski sedang geram-geramnya.

Manusia yang kami hormati.

Kasih, pengampunan, dan keselamatan dari Tuhan semoga selalu tercurah untuk kalian.

Kalau ada ciptaan Tuhan yang paling banyak dirugikan, itulah kami. Sejak diciptakannya manusia, dan kemudian dijadikan penghuni bumi, tak henti-hentinya kami dijadikan kambing hitam, pembenaran, bahkan seolah-olah menjadi penyebab dari semua tindakan keliru yang dilakukan manusia.

Dari saat matahari terbit hingga terbit kembali keesokan harinya, kami juga jadi sasaran hujatan, penghinaan, yang dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari penjahat hingga pejabat, yang kafir sampai yang selalu berzikir, yang royal juga yang kikir.

Untuk Anda ketahui, semua yang kami lakukan adalah atas mandat dari Tuhan kita. Tanpa itu, apalah daya kami. Sekali lagi, semua tindakan kami adalah atas mandat dan izin dari Tuhan. Sementara Anda, kami tahu betul, sering kali berbuat sesuatu tanpa izin dari Dia: menebang hutan, memakan uang rakyat, memperkosa hak-hak anak dan perempuan, dan seterusnya.

Beberapa abad belakangan, kami secara signifikan telah mengurangi kegiatan goda-menggoda seperti diceritakan dalam doktrin agama kalian. Kalian sudah jauh lebih kreatif dalam kejahatan. Bayangkan, Anda bisa tampak shaleh, peduli rakyat, penuh cinta kasih, padahal di dalam busuk!

Kami bangsa Iblis, tidak pernah munafik seperti itu. Garis tegas telah kami buat. Kami profesional, dan taat pada kontrak yang kami buat dengan Tuhan.

Memang dalam kegeraman beradab-abad ini, kadang-kadang kami juga dapat hiburan dari kekonyolan kalian. Bayangkan, tidak sedikit dari kalian yang begitu bersemangatnya ingin membantu Tuhan untuk menghadapi kami.

Busyet dah! (Catatan: ini kata yang paling keras dalam surat ini-editor)

Kalian pikir Tuhan perlu itu? Kalau Dia mau, kontrak yang kami buat bisa dibatalkan kapan saja. Tidak saja diberhentikan, kami juga bisa dimusnahkan, semudah Anda menghapus data film porno dalam sebuah flashdisk.

Kalian terlalu banyak menonton film superhero buatan Hollywood seperti Spiderman atau Superman sih: bahwa selalu ada sesuatu yang jahat sebagai rival yang baik. Bahwa ada kami, para iblis selaku sparring partner yang imbang buat Tuhan. Kalian bahkan membayangkan, kadang Tuhan sampai ngos-ngosan untuk menghadapi kami, seperti Spiderman sesekali sampai tercabik-cabik bajunya menghadapi Green Goblin.

Dan untuk itu, kalian berdiri di sisi Tuhan, menjadi pembelanya untuk mengeroyok kami, dengan pedang, bom potassium, iuran ke rumah ibadah, atau khutbah berapi-api.

Ya ampun…. Malu kami jadinya. Tersanjung karena dianggap begitu perkasa. Kami sungguh tak sehebat itu. Hanya Dialah yang Mahahebat. Kita, kami dan Anda, ada di sini, hidup sejenak, hanya karena sebuah kontrak, sebuah mandat. (Bedanya, kami taat, Anda ingkar.)

Ke depan, mestinya kita memperbanyak kerja sama. Kami adalah sumber ambisi, motivasi, passion, hasrat, energi. Masa kalian tak bisa mengambil nilai-nilai positif itu. Jadi, Anda menggunakan metode-metode kami, untuk tujuan-tujuan kemanusiaan dan kemuliaan.

Oh, tidak apa-apa. Bagi kami, tidak menjadi masalah, apakah berhasil atau tidak menggoda Anda. Sesuatu dinilai bukan dari hasil, tetapi proses. Itulah profesionalisme. Banyak atau sedikit manusia yang tergelincir dalam dosa, sama sekali tidak akan menambah atau mengurangi penghasilan kami. Kontrak kerja kami fixed, bukan seperti kontrak dengan buruh yang kalian buat.

Malah, syukur-syukur kami memang dianggap gagal, sehingga dipensiunkan dini, dari pekerjaan yang semakin tidak asyik ini. Ditugaskan menjadi seekor kupu-kupu, atau kuntum bunga di lereng bukit, sepertinya jauh lebih menarik.

Akhirnya, terima kasih atas perhatian Anda. Dan untuk selalu Anda ingat, kami tidak begitu berkenan sesungguhnya, untuk bertetangga dengan Anda di neraka. Kami dari api, sehingga neraka memang sesuatu yang suitable buat kami. Sementara Anda, akan mengeluarkan bau hangus, dari kulit yang mengelupas, dan daging yang terpanggang. Mengapa kami tetap saja menggoda, semata-mata karena asas profesionalitas, termasuk ketaatan pada kontrak kerja tadi.

Sekali lagi, kasih, pengampunan, dan keselamatan dari Tuhan semoga selalu tercurah untuk kalian

Salam.

(Kami seungguhnya tak pernah punya nama, karena bisa menjadi siapa saja)

No comment »