Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan

Kau beranjak pergi ke dunia, nun jauh, berbilang jarak dari segala. Kemudian kau pulang, berbusana kegelapan. Kau kembali, memberiku cahaya yang lama kau simpan-simpan, kau bentuk-bentuk tak setahu dunia, membentuk dirinya sendiri seperti lempung tanah liat, salju yang menyerbuk membatu, menggumpal, kau hibahkan, menaruhnya pada sebuah sudut hati, seperti persuaan cahaya dengan cahaya.

Dua cahaya menyatu jadi biru, titik warna tertinggi yang dicapai api, terbakar tanpa sempat terkejap—kau serahkan dirimu sendiri, di sini, di sebuah tempat yang jauh dari segala yang lain, bahkan jauh dari dirimu sendiri, di dekatku, di dalamku.

Pada saat yang sama, kau juga membuatku jauh dari diriku sendiri, di dekatmu, di dalammu. Jauh dari diri kita masing-masing, mengakrabi keabadian, mendekat pada sesuatu yang tak ternamai, tak tertempatkan, keindahan yang tak tergelincirkan, tak tergeserkan, tak terundukkan.

Di sini, di tempat ini, kita tertegaskan, terteguhkan, terkukuhkan, terpaskan, tersahkan. Kita ternyata harus terpisah untuk bisa bersama seperti ini, bercerai untuk rujuk menjadi sesuatu yang baru, rasa yang mengejutkan setiap kali datang, terpesona pada kebaruan yang selalu menyapa, berkilau wujud senyawa sederhana.

Kita pergi ke sana, untuk kemudian menyadari kita selalu di sana, dan akan tetap di sana, untuk kita temukan lagi, untuk kita lupakan lagi, dibarukan, disingkap, dibagi, digugurkan, disemi lagi.

Menjauh untuk kembali, berbusana kegelapan, membuka selubung cahaya, membangun cahaya, mengenali cahaya. Beringsut ke belakang, merangkak ke depan. Cahaya yang membuat bayang-bayang pepohonan menari-nari di tengah angin, di hadapan jendela tak berdaun di palung malam ini. Menengadah, merunduk.

Inilah kembara rintik, kembali ke sumbernya, merontokkan dirinya sendiri ke bumi, agar bisa mengenali samudera.

Seperti ini. Sungguh seperti itu.

Say your words

You must be logged in to post a comment.