Ada hal yang terasa aneh, ketika kau ziarah ke tempat-tempat di mana kau dulu menghabiskan masa lalu.
Ke mana pun kau melangkah, kenangan seperti mengepung di setiap sudut. Di sana, di pantai di mana kau dulu pernah bolos dari sekolah; di sana, di ujung jalan di mana kau pertama kali berhasil meremas jemarinya; di sana, di restoran di mana pertama kali kau makan ayam bakar, padahal kau sedang kurang sehat, pas di hari ulang tahunmu itu…
Hal-hal yang sudah nyaris kau lupakan sama sekali, sesuatu yang terasa tak terkait lagi dengan kekinianmu, ke konsepsi dirimu saat ini; mulai menyembur, seperti luapan air yang melepas sumbatnya, dan getaran di bawah sekujur kulitmu itu memulai iramanya, semua hanya karena tiba-tiba matamu melihat riak air memantulkan cahaya bulan, atau bau yang khas di udara, mungkin juga rute-rute lama ke mana kau dulu mengayunkan langkah.
Kau pun tertegun: sungguhkah semuanya seburuk yang kau ingat? Bukankah sudah kau bungkus cerita lama itu, menaruhnya di tong sampah ingatan, tapi kini mengapa semua seperti menyergap, dan langkahmu tiba-tiba memberat seperti mendadak dapat beban tambahan.
Kota ini, bagimu, akan selalu menjadi kota yang sebagaimana dulu kau pahami: penuh rasa bosan dan gejolak pemberontakan, malam-malam yang dihabiskan di atas sepeda motor tua, percakapan yang mulai mempertanyakan tujuan kehidupan, cinta pertama, pelajaran main piano, bt, gairah, kesepian, depresi, perenungan diri, persahabatan.
Hari-hari terik, malam-malam hangat, rokok mild pertamamu, menyimak debur malas ombak mengantar angin malam, menunggu senja memerah mengantar mentari ke peraduan, berlari-lari kecil, mengenali diri, membenci diri sendiri.
Kota ini tak pernah cukup, begitu juga kau, tak pernah merasa sempurna. Maka kau putuskan pergi, dan bersumpah tak akan pernah kembali.
Tapi kini ketika kembali ke sini, walau hanya untuk satu sekat kurun waktu, setelah kau lupakan semua yang tertinggal di belakang, kau berhadapan dengan situasi yang aneh.
Kau tadinya ingin melihat kota ini, sama sekali terlepas dari masa lalumu, pada setiap aspeknya. Tapi kau harus mengakui, kau tak pernah bisa. Kau tetap orang yang dulu itu, kau tetaplah pengalaman-pengalaman itu, tempat-tempat itu, semua momen itu.
Pada semua naskah-naskah narasai hari yang tersusun rapi di setiap sudutnya, kota ini memantulkan bayanganmu. Mana mungkin kau campakkan semuanya begitu saja, dan kau bertandang bak seorang alien. Seperti pecinta yang tercampakkan, seperti bocah-bocah bandel, tempat ini mengisimu dengan kosongnya. Tak mungkin kau tinggalkan dia seutuhnya di belakang, tak mungkin kau ingkari dirimu di masa lalu.
Tapi tidak untuk menjadi pengantar mimpi buruk, sebab pada setiap pagi, kau akan bangun, memulai hari baru tanpa dosa.