Archive for November, 2008

It’s mE

Kali ini tidak ada cinta
Tidak ada lagi kasih dan sayang
Tidak ada lagi mimpi
Tidak ada lagi harapan
Kamu t’lah pergi
Tinggal kan mimpi dan asa
Hidup tak lagi bermakna
itulah jiwaku tanpa mu
aku tak percaya lagi
Untuk merajut kepingan hati
Aku harus terus melangkah
Tak akan terhenti tak akan menepi…
“Itulah aku”

No comment »

patah hati?

Ketika aku tidak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan darimu, apakah sekarang aku sudah boleh untuk patah hati..?
Ketika kenyataan tak seindah harapan yang kudamba, apakah sudah cukup alasan untuk patah hatiku..?
Ketika rasa dalam dada tidak bisa tersalurkan kepada dia yang namanya terukir jauh dalam dadaku, apakah sudah bisa membuatku patah hati..?

Kecewa, sedih, sangatlah wajar kurasakan saat ini
Menangis, boleh saja, tiada yang melarangnya
Namun patah hati, sepertinya tidak boleh terjadi…….

No comment »

Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan

Kau beranjak pergi ke dunia, nun jauh, berbilang jarak dari segala. Kemudian kau pulang, berbusana kegelapan. Kau kembali, memberiku cahaya yang lama kau simpan-simpan, kau bentuk-bentuk tak setahu dunia, membentuk dirinya sendiri seperti lempung tanah liat, salju yang menyerbuk membatu, menggumpal, kau hibahkan, menaruhnya pada sebuah sudut hati, seperti persuaan cahaya dengan cahaya.

Dua cahaya menyatu jadi biru, titik warna tertinggi yang dicapai api, terbakar tanpa sempat terkejap—kau serahkan dirimu sendiri, di sini, di sebuah tempat yang jauh dari segala yang lain, bahkan jauh dari dirimu sendiri, di dekatku, di dalamku.

Pada saat yang sama, kau juga membuatku jauh dari diriku sendiri, di dekatmu, di dalammu. Jauh dari diri kita masing-masing, mengakrabi keabadian, mendekat pada sesuatu yang tak ternamai, tak tertempatkan, keindahan yang tak tergelincirkan, tak tergeserkan, tak terundukkan.

Di sini, di tempat ini, kita tertegaskan, terteguhkan, terkukuhkan, terpaskan, tersahkan. Kita ternyata harus terpisah untuk bisa bersama seperti ini, bercerai untuk rujuk menjadi sesuatu yang baru, rasa yang mengejutkan setiap kali datang, terpesona pada kebaruan yang selalu menyapa, berkilau wujud senyawa sederhana.

Kita pergi ke sana, untuk kemudian menyadari kita selalu di sana, dan akan tetap di sana, untuk kita temukan lagi, untuk kita lupakan lagi, dibarukan, disingkap, dibagi, digugurkan, disemi lagi.

Menjauh untuk kembali, berbusana kegelapan, membuka selubung cahaya, membangun cahaya, mengenali cahaya. Beringsut ke belakang, merangkak ke depan. Cahaya yang membuat bayang-bayang pepohonan menari-nari di tengah angin, di hadapan jendela tak berdaun di palung malam ini. Menengadah, merunduk.

Inilah kembara rintik, kembali ke sumbernya, merontokkan dirinya sendiri ke bumi, agar bisa mengenali samudera.

Seperti ini. Sungguh seperti itu.

No comment »

Masa Lalu? Ah, di Setiap Pagi Kau akan Terbangun tanpa Dosa

Ada hal yang terasa aneh, ketika kau ziarah ke tempat-tempat di mana kau dulu menghabiskan masa lalu.

Ke mana pun kau melangkah, kenangan seperti mengepung di setiap sudut. Di sana, di pantai di mana kau dulu pernah bolos dari sekolah; di sana, di ujung jalan di mana kau pertama kali berhasil meremas jemarinya; di sana, di restoran di mana pertama kali kau makan ayam bakar, padahal kau sedang kurang sehat, pas di hari ulang tahunmu itu…

Hal-hal yang sudah nyaris kau lupakan sama sekali, sesuatu yang terasa tak terkait lagi dengan kekinianmu, ke konsepsi dirimu saat ini; mulai menyembur, seperti luapan air yang melepas sumbatnya, dan getaran di bawah sekujur kulitmu itu memulai iramanya, semua hanya karena tiba-tiba matamu melihat riak air memantulkan cahaya bulan, atau bau yang khas di udara, mungkin juga rute-rute lama ke mana kau dulu mengayunkan langkah.

Kau pun tertegun: sungguhkah semuanya seburuk yang kau ingat? Bukankah sudah kau bungkus cerita lama itu, menaruhnya di tong sampah ingatan, tapi kini mengapa semua seperti menyergap, dan langkahmu tiba-tiba memberat seperti mendadak dapat beban tambahan.

Kota ini, bagimu, akan selalu menjadi kota yang sebagaimana dulu kau pahami: penuh rasa bosan dan gejolak pemberontakan, malam-malam yang dihabiskan di atas sepeda motor tua, percakapan yang mulai mempertanyakan tujuan kehidupan, cinta pertama, pelajaran main piano, bt, gairah, kesepian, depresi, perenungan diri, persahabatan.

Hari-hari terik, malam-malam hangat, rokok mild pertamamu, menyimak debur malas ombak mengantar angin malam, menunggu senja memerah mengantar mentari ke peraduan, berlari-lari kecil, mengenali diri, membenci diri sendiri.

Kota ini tak pernah cukup, begitu juga kau, tak pernah merasa sempurna. Maka kau putuskan pergi, dan bersumpah tak akan pernah kembali.

Tapi kini ketika kembali ke sini, walau hanya untuk satu sekat kurun waktu, setelah kau lupakan semua yang tertinggal di belakang, kau berhadapan dengan situasi yang aneh.

Kau tadinya ingin melihat kota ini, sama sekali terlepas dari masa lalumu, pada setiap aspeknya. Tapi kau harus mengakui, kau tak pernah bisa. Kau tetap orang yang dulu itu, kau tetaplah pengalaman-pengalaman itu, tempat-tempat itu, semua momen itu.

Pada semua naskah-naskah narasai hari yang tersusun rapi di setiap sudutnya, kota ini memantulkan bayanganmu. Mana mungkin kau campakkan semuanya begitu saja, dan kau bertandang bak seorang alien. Seperti pecinta yang tercampakkan, seperti bocah-bocah bandel, tempat ini mengisimu dengan kosongnya. Tak mungkin kau tinggalkan dia seutuhnya di belakang, tak mungkin kau ingkari dirimu di masa lalu.

Tapi tidak untuk menjadi pengantar mimpi buruk, sebab pada setiap pagi, kau akan bangun, memulai hari baru tanpa dosa.

No comment »