Jika Kau Menyerahkan Hati, Pastikan Ada Tanda Terimanya
Pada masanya, caraku jatuh cinta itu pun kucintai, apalagi kau; luapan air yang keluar dari arusnya, menamparku dari lembah yang tak kuduga.
TAPI seperti udara yang kuhirup, ternyata tak bisa kau selamanya kusimpan di paru-paruku, harus kulepas pergi, sepelan mungkin, membawa perih, meninggalkan pedih, kekosongan itu mendadak akrab. Hela napas baru itu tak mengisi setiap gelembung yang kau tinggal.
Aku pun dipaksa melanggar sumpah keangkuhan itu, untuk tak menangisi apa yang berlalu dari hidupku; dan tak pernah bisa kurayakan setiap detik yang pernah kita bagi bersama, seperti orang-orang beriman berfestival di hari kelahiran dan kematian nabi-nabinya.

gambar dipermak ala kadarnya dari cartoonstock
Terlalu besar andilmu dalam tumbuh kembang jiwaku, Cinta, karena kau bukan angin lalu yang sekadar menggelombangkan urai rambutku. Tak kuingat lagi berapa lirik lagu cinta sudah kita ciptakan, walau tak selalu kita temukan nada untuk mendendangkannya.
Jejakmu semakin mengukukuhkan bentuknya, justru setelah tak kupahami lagi ke penjuru angin mana sebenernya kembaramu berhaluan. Sepi itu mencekik, kata orang. Jadi bukan karena enggan menarik napas baru, Cinta, tapi aku memang tercekat.
Cinta, tau rasanya kehausan udara, padahal kau sedang berada di sentrum atmosfir?
“Ya, bodoh itu namanya!” bentak si Cinta, “sebodoh tikus yang mati di lumbung padi!”
*****
Berapa kali sih kudu dibilangin, nitip apalagi ngasih barang-barang berharga itu harus pake tanda terima! Iya kalo yang dititipin ngerti seberapa bernilainya sesuatu itu buatmu, lha kalo nggak? Apalagi hati? Set dah, kamu pikir ada toko yang jual spare part perlengkapan jiwa?
Nuntut ke pengadilan? Hayah! Pencuri kayu aja lolos, bijimana pencuri hati? Paling juga hakimnya tersenyum genit, trus bilang, “Istri saya baru dua lo, Dek…”
Udah… now go sleep without fear of tomorrow, because you know now what you have left behind.
——————————